BAB I
I.PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Manusia adalah salah satu mahluk Tuhan Yang Maha Esa yang
paling sempurna diantara
semua mahluk ciptaan-Nya. Manusia dibekali sesuatu yang amat berharga dan
istimewa yang tidak dibekalkan Tuhan Yang
Maha Esa kepada mahluk ciptaan-Nya yang lain, dengan akal manusia dapat membuat keputusan
diantara beberapa pilihan yang ada, mengambil pelajaran yang terjadi dalam kehidupannya baik
itu kejadian yang baik maupun tidak baik baginya. Pada umumnya kegiatan yang dilakukan oleh kalangan suatu suku atau etnis
merupakan warisan turun-temurun dari para leluhur-lehuhur mereka. Sedangkan
sifat dari kegiatan-kegiatan tersebut umumnya sacral atau dianggap suci dan bernilai oleh kalangan
masyarakat suku atau etnis tersebut.Kegiatan-kegiatan yang telah diwariskan
turun-temurun dan dianggap sakral tersebut biasa kita sebut sebagai
budaya..Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan etnis
memiliki berbagai macam budaya yang unik dan memiliki keistimewaan
sendiri.Manusia sebagai mahluk yang hidup dalam suatu suku atau etnis khususnya
diIndonesia merupakan pelaku utama budaya-budaya yang ada di dalam Nusantara
itu, makakarena itu manusia adalah mahluk budaya. Manusia
dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Seseorang yang
memiliki perilaku berdasarkan nilai-nilai budaya, terutama nilai moral dan
etika maka akan disebut sebagai manusia yang berbudaya.
B.Rumusan Masalah
1.
Apakah
arti dari budaya dan kebudayaan?
2.
Apakah
yang dimaksud dengan manusia sebagai mahluk budaya?
3.
Apakah
Pengaruh
kebudayaan bagi kehidupan manusia?
C.Tujuan
1.
Untuk mengetahui apa arti dari budaya
dan kebudayaan.
2.
Untuk mengetahui apa yang dimaksud
dengan manusia sebagai mahluk budaya.
3.
Untuk mengetahui apa dan bagaimana
pengaruh kebudayaan bagi kehidupan manusia.
BAB II
II.PEMBAHASAN
1.Pengertian Budaya dan Kebudayaan.
Kata budaya
merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa.
Sebenarnya kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan kata kebudayaan, yang
berasal dari Bahasa Sangsekerta budhayah yaitu bentuk jamak dari budhi
yang berarti budi atau akal. Budaya atau kebudayaan dalam Bahasa Belanda di
istilahkan dengan kata culturur. Dalam bahasa Inggris culture.
Sedangkan dalam bahasa Latin dari kata colera. Colera berarti mengolah,
mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). Kemudian
pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan
aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Definisi budaya
dalam pandangan ahli antropologi sangat berbeda dengan pandangan ahli berbagai
ilmu sosial lain. Ahli-ahli antropologi merumuskan definisi budaya sebagai
berikut:
E.B. Taylor:
1871 berpendapat bahwa budaya adalah: Suatu keseluruhan kompleks yang
meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat,
serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota
masyarakat.
Sedangkan
Linton: 1940, mengartikan budaya dengan: Keseluruhan dari pengetahuan, sikap
dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh
anggota suatu masyarakat tertentu.
Adapun
Kluckhohn dan Kelly: 1945 berpendapat bahwa budaya adalah: Semua rancangan
hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit,
rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu, sebagai pedoman yang potensial
untuk perilaku manusia
Lain halnya
dengan Koentjaraningrat: 1979 yang mengatikan budaya dengan: Keseluruhan
sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan
masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Berdasarkan
definisi para ahli tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa hal terpenting dalam
tindakan manusia berbudaya itu adalah belajar. Meskipun tidak semua tindakan
manusia dalam kehidupannya perlu dibiasakan dengan belajar, akan tetapi tidak
sedikit juga tindakan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang perlu
dibiasakan dengan belajar.
Kebudayaan adalah salah satu istilah teoritis dalam
ilmu-ilmu sosial. Secara umum, kebudayaan diartikan sebagai kumpulan
pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Makna ini kontras dengan pengertian kebudayaan sehari-hari yang
hanya merujuk pada bagian tertentu warisan sosial, yakni tradisi sopan santun
dan kesenian. Istilah kebudayaan ini berasal dari bahasa latin Cultura dari
kata dasar colere yang berarti berkembang atau tumbuh.
Setiap individu menjalankan kegiatan
dan menganut keyakinannya sesuai dengan warisan sosial atau kebudayaannya. Hal
ini bukan semata-mata karena adanya sanksi tersebut, atau karena mereka merasa
menemukan unsur-unsur motivasional dan emosional yang memuaskan dengan menekuni
kegiatan-kegiatan dan keyakinan cultural tersebut.
Kebudayaan adalah
sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan
adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya,
berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola
perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan
lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan
kehidupan bermasyarakat.
2.Manusia Makhluk Berbudaya
Manusia adalah Makhluk Berbudaya berarti manusia adalah makhluk yang memiliki
kelebihan dari makhluk – makhluk lain yang diciptakan oleh Allah di muka bumi ini. Manusia adalah mahluk yang paling sempurna bila
dibandingkan dengan mahluk ciptaan Allah lainnya. Kelebihan manusia tersebut
adalah akal. Manusia memiliki akal yang
dapat dipergunakan untuk menghasilkan ide dan gagasan yang selalu berkembang
seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu, selain manusia harus bertanggung jawab dan memiliki etika moral,
manusia juga harus menguasai
segala sesuatu yang berhubungan dengan kepemimpinannya di muka bumi dengan menciptakan nilai kebaikan, kebenaran, keadilan dan
tanggung jawab agar bermakna bagi kemanusiaan. Selain itu manusia juga harus
mendayagunakan akal budi untuk menciptakan kebahagiaan bagi semua makhluk Tuhan
di muka bumi ini. Dengan berbudaya, manusia dapat memenuhi
kebutuhan dan menjawab tantangan hidupnya. Manusia menggunakan akal dan budinya
dalam berbudaya. Kebudayaan merupakan perangkat yang ampuh dalam sejarah
kehidupan manusia yang dapat berkembang dan dikembangkan melalui sikap-sikap
budaya yang mampu mendukungnya..
Konsep kebudayaan membantu dalam
membandingkan berbagai mahluk hidup. Isu yang sangat penting adalah kemampuan
belajar. Lebah melakukan aktifitasnya hari demi hari, bulan demi bulan dan
tahun demi tahun dalam bentuk yang sama. Setiap jenis lebah mempunyai pekerjaan
yang khusus dan melakukan kegiatannya secara kontinyu tanpa memperdulikan
perubahan lingkungan disekitarnya. Lebah pekerja terus sibuk mengumpulkan madu
untuk koloninya. Tingkah laku ini sudah terprogram dalam gen mereka yang
berubah secara sangat lambat dalam mengikuti perubahan lingkungan di
sekitarnya. Perubahan tingkah laku lebah akhirnya harus menunggu perubahan
dalam gen. Hasilnya adalah tingkah-laku lebah menjadi tidak fleksibel.
Berbeda dengan binatang, tingkah laku
manusia sangat fleksibel. Hal ini terjadi karena kemampuan dari manusia untuk
belajar dan beradaptasi dengan apa yang telah dipelajarinya. Sebagai makhluk
berbudaya, manusia mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan,
baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan hidupnya.
Kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap
kebutuhan dasar hidupnya. Manusia berbeda dengan binatang, bukan saja dalam
banyaknya kebutuhan, namun juga dalam cara memenuhi kebutuhan tersebut.
Kebudayaanlah yang memberikan garis pemisah antara manusia dan binatang .
Ketidakmampuan manusia untuk bertindak
instingtif diimbangi oleh kemampuan lain yakni kemampuan untuk belajar,
berkomunikasi dan menguasai objek-objek yang bersifat fisik. Kemampuan untuk
belajar dimungkinkan oleh berkembangnya inteligensi dan cara berfikir simbolik.
Terlebih lagi manusia mempunyai budi yang merupakan pola kejiwaan yang di
dalamnya terkandung dorongan-dorongan hidup yang dasar, insting, perasaan,
dengan pikiran, kemauan dan hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan
jalan memberi penilaian terhadap obyek dan kejadian.
Manusia adalah mahluk yang berbudaya. Berbudaya merupakan
ciri khas kehidupan manusia yang membedakannya dari mahluk lain. Manusia
dilahirkan dalam suatu budaya tertentu yang mempengaruhi kepribadiannya. Pada
umumnya manusia sangat peka terhadap budaya yang mendasari sikap dan
perilakunya.
Kebudayaan merupakan induk dari berbagai macam pranata
yang dimiliki manusia dalam hidup bermasyarakat. Etika merupakan bagian dari
kompleksitas unsur-unsur kebudayaan. Ukuran etis dan tidak etis merupakan
bagian dari unsur-unsur kebudayaan. Manusia membutuhkan kebudayaan, yang
didalamnya terdapat unsur etika, untuk bisa menjaga kelangsungan hidup. Manusia
yang berbudaya adalah manusia yang menjaga tata aturan hidup.
Etika dapat diciptakan, tetapi masyarakat yang beretika
dan berbudaya hanya dapat diciptakan dengan beberapa persyaratan dasar, yang
membutuhkan dukungan-dukungan, seperti dukungan politik, kebijakan,
kepemimpinan dan keberanian mengambil keputusan, serta pelaksanaan secara
konsekuen. Selain itu dibutuhkan pula ruang akomodasi, baik lokal maupun
nasional di mana etika diterapkan, pengawasan, pengamatan, dan adanya
pihak-pihak yang memelihara kehidupan etika. Kesadaran etis bisa tumbuh karena
disertai akomodasi.
Berbudaya, selain didasarkan pada etika juga terkandung
estetika di dalamnya. Jika etika menyangkut analisis dan penerapan konsep
seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab, estetika membahas
keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa
merasakannya .
Jika kita melihat keadaan
di sekeliling kita banyak sekali contoh-contoh yang menunjukkan manusia sebagai
mahluk yang berbudaya, misalnya, kebiasaan masyarakat untuk mengadakan
sholawatan dalam rangka menyambut maulid nabi besar Muhammad SAW, mengunjungi
makam para wali, budaya bau nyale di wilayah nusa tenggara barat. Dan berbagai
macam budaya
lain di nusantara ini yang sampai sekarang masih tetap di laksanakan karena
kepercayaan mereka kepada nenek moyang mereka, sekaligus
sebagai bukti bahwa manusia adalah mahluk yang berbudaya.
Dalam Al qur an sendiri ada
beberapa ayat-ayat Al qur an, yang menunjukkan manusia sebagai mahluk yang
berbudaya, misalnya dalam firman Allah: “sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam merupakan tanda bagi
orang-orang yang berfikir. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dengan cara
berdiri, duduk ataupun berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi, maka mereka berkata, ya tuhan kami,tidaklah kau menciptkan
semua ini dengan sia-sia, maha suci engkau, maka lindungilah kami dari api
neraka”.
Pada ayat di atas kita
menemukan kata berfikir pada ayat pertama yang merupakan arti manusia, dan pada
ayat kedua kita menemukan kata mengingat Allah (akhlak/budi) yang merupakan
arti kata budaya, sehingga dengan demikian nyatalah alas an kita kiranya jika
kita mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang berbudaya. Karena hanya orang
yang berbudayalah yang bisa menggapai derajat yang telah Allah janjikan dalam
surat Al mujadalah ayat 11. Dengan demikian marilah kita selalu memperbaiki
diri kita sebgai mahluk yang berbudaya dan semakin bersemangat terus untuk
mengembangkan budaya kita, tentunya budaya yang di pandang benar oleh syariat.
3.Pengaruh Kebudayaan bagi Kehidupan Manusia
Pengaruh kebudayaan bagi kehidupan
manusia .seperti yang
telah kita sadari
bahwa dari sebagian banyak orang tahu tentang arti dari sebuah kebudayaan,
karena kebudayaan itu merupakan salah satu acuan hidup kita untuk menjadi
seseorang yang ingin lebih dipandang, baik itu dari kebudayaan barat maupun
dari kebudayaan daerah. Maka dari itu tidak dapat dipungkiri , bahwa peradaban
yang lebih maju akan sangat berpengaruh terhadap peradaban yang berkembang
belakangan. Seperti budaya barat yang terus berproses dinamis dan teruji yang
akan berpengaruh terhadap peradaban lain, Peradaban timur misalnya.
Masuknya gaya hidup barat sangat berpengaruh terhadap kepribadian
bangsa Indonesia terutama masyarakat remaja pada umumnya. kita tahu bahwa pengaruh interaksi
dengan budaya barat mewarnai kehidupan bangsa indonesia. Karena budaya barat
dianggap sebagai ciri khas kemajuan dalam ekspresi kebudayaan indonesia.
Padahal belum tentu sesuai dengan kebutuhan situasi dan kondisi masyarakatnya
sendiri. Misalanya saja kebudayaan yang tidak
baik terhadap kepribadian, contohnya budaya pergaulan bebas gaya barat yang
mempengaruhi kepribadian kita menjadi liar dan susah diatur, selalu saja ingin
hidup bebas tanpa aturan, serta gaya hidup malam yang sangat disenangi oleh
kaum pria maupun wanita. Jadi inilah efek dari kebudayaan barat yang telah
masuk dalam suatu bangsa Indonesia yang mayoritas dicontoh oleh para kaum
remaja.
Inti dari penjelasan ini adalah kebudayaan yang bersumber
dari luar dapat dengan mudah masuk secara terus menertus dengan cepat ke
Indonesia, dan sangat sulit bagi kita untuk menghalaunya
,
oleh karena itu sebaiknya kita filter semua yang ada dalam diri kita sendiri. Baik buruknya
suatu budaya tergantung dari
cara dan kesadaran diri kita sendiri untuk menyikapinya.
Karena kebebasan dan kesenangan hidup masyarakat barat tidak selamanya positif dan sesuai dengan kepribadian asli kita. Banyak kalangan remaja yang sedang mencari jati diri tergusur oleh tren-tren yang tak pernah berhenti diiklankan sebagai suatu gaya hidup yang menyenangkan dan mendunia. Serta banyak norma-norma masyarakat pribumi diindonesia yang terkikis dalam generasi mudanya.
Adapun sisi negatif dari pengaruh budaya barat yang juga sebagai penyebab turunnya moral atau akhlak para remaja diindonesia, yaitu: .
1. Kurangnya pendidikan agama atau akhlak, yang sebagai kunci kontrol diri remaja dalam menghadapi sikap negatif dilingkungan sekitar.
Karena kebebasan dan kesenangan hidup masyarakat barat tidak selamanya positif dan sesuai dengan kepribadian asli kita. Banyak kalangan remaja yang sedang mencari jati diri tergusur oleh tren-tren yang tak pernah berhenti diiklankan sebagai suatu gaya hidup yang menyenangkan dan mendunia. Serta banyak norma-norma masyarakat pribumi diindonesia yang terkikis dalam generasi mudanya.
Adapun sisi negatif dari pengaruh budaya barat yang juga sebagai penyebab turunnya moral atau akhlak para remaja diindonesia, yaitu: .
1. Kurangnya pendidikan agama atau akhlak, yang sebagai kunci kontrol diri remaja dalam menghadapi sikap negatif dilingkungan sekitar.
2. Minimnya sumber
pengetahuan yang diterima dari pendidikan yang layak.
3. Kurangnya rasa
percaya diri dalam pergaulan sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan yang
buruk, dan juga ditambah minimnya ketrampilan untuk mengembangkan potensi diri
kearah yang lebih baik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan
dari makalah ini adalah kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia. Karena kebudayaan merupakan suatu acuan hidup manusia. Manusia
dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Manusia adalah makhluk berbudaya, yang
dimaksud dengan manusia sebagai mahluk berbudaya adalah manusia
yang memiliki perilaku berdasarkan nilai-nilai budaya, terutama nilai moral dan
etika. Kebudayaan sangat berpengaruh
terhadap kehidupan manusia, ini di akibatkan karena kebudayaan itu sendiri
telah menjadi suatu acuan hidup yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
Kebudayaan yang masuk ke Indonesia itu sangat beragam, contohnya budaya barat,
masuknya budaya barat ke indonesia berlangsung dengan sangat cepat tanpa bisa
kita halau, sehingga kita harus memfilter diri kita sendiri guna menghindari
segala hal yang berbau negatif, karena tidak selamanya budaya barat itu
bersifat positif. Semua hal yang berasal dari budaya barat belum tentu sesuai
dengan kepribadian aseli bangsa indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar